Halo, welcome back to my blog...
ini lajutan dari postingan sebelumnya, bagi yang belum baca sebaiknya klik disini supaya bacanya enak aja hehe.
OKE langsung aja!
Jam 4 pagi aku terbangun karena panggilan alam hehe, langsung cuss ke kamar mandi dan Alhamdulillah hot shower nya masih hidup (pengalaman di beberapa hotel hot shower dibatasi pada jam tertentu). Nanggung fikirku, jadi sekalian aja aku mandi dan bersiap untuk sholat shubuh ( padahal lama lagi) hehe....
langit masih gelap, kawan - kawan pun belum satupun yang bangun, kubuka hpku dan kucari dan kuinstal aplikasi azan dan arah kiblat sekedar untuk petunjuk sholat disini (maklum disini tidak ada masjid).
Setelah sholat, mulai kubangunkan satu persatu dari kami untuk bergantian memakai kamar mandi agar kami tidak kesiangan untuk melanjutkan perjalanan kami. Sembari menunggu kawan kawan yang lagi bersih bersih, aku berjalan menuju balkon utama hotel ini, yang terlihat hanya awan gelap, cahaya lampu-lampu jalan.
Lanjut!!
Sekitar jam 8 pagi kami check out dari hotel. Sebelum meninggalkan hotel, Bapak si pemilik hotel dengan ramah menawarkan kami untuk berfoto memakai pakaian adat batak yang ada di toko souvenir miliknya. Beberapa dari kami menyempatkan diri untuk mencobanya.
Dega saat mencoba memakai pakaian adat batak
Selesai berfoto, kami lanjutkan perjalanan. Tujuan pertama kami hari ini adalah 'Pantai Pasir Putih Parbaba', kenapa disebut pantai pasir putih? mungkin ini merupakan tepian danau toba yang terbilang landai seperti pantai dan pasir yang bisa dibilang putih. Di perjalanan kami melewati perkampungan ambarita dimana ada situs 'Huta Siallagan' tempat wisata budaya sejarah batak yang sering disinggahi wisatawan. Namun , saat kami sampai disana mungkin masih terlalu pagi hingga belum ada yang berjaga dan kami memutuskan untuk tidak mampir dan melanjutkan perjalanan kami.
Sekitar 45 menit kami susuri jalan lingkar samosir di pinggiran danau toba ini, akhirnya tampak plang 'Pantai Pasir Putih Parbaba' disebelah kanan jalan. Langsung saja kubelokkan setirku. Masuk kedalamnya terdapat pos retribusi tiket masuk. Disitu tertulis Rp 2000/org, namun saat itu tidak ada petugas yang berjaga, hingga kami masuk aja tanpa bayar, mungkin lagi lagi karena kami pergi di weekdays. Kuparkirkan mobil tepat menghadap pantainya, terlihat tepian danau yang sangat landai, jauh sekali berbeda dengan tepian-tepian danau toba seperti di Parapat yang tepiannya saja bisa mencapai kedalaman 2-3 meter. Mungkin kalau kami datang di akhir pekan disini ramai pengunjung yang berenang atau sekedar bermain di tepiannya, karena tempatnya cocok buat sekedar berenang dan main air, apalagi untuk anak-anak karena tepiannya dangkal seperti pantai. Tapi kami tidak melihat satupun wisatawan selain kami di pantai itu, hahaha, lagi lagi karena weekdays sehingga pantai itu serasa pantai pribadi kami.
TELE
Tujuan kami berikutnya adalah 'Tele', tempat paling indah untuk melihat Danau Toba lebih luas lagi. Letaknya di puncak bukit di Jalan lintas Pangururan - Tele. Juga terdapat menara pandang yang bisa kita naiki untuk melihat keindahan danau toba dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Sekitar 45 menit kami susuri jalan lingkar samosir di pinggiran danau toba ini, akhirnya tampak plang 'Pantai Pasir Putih Parbaba' disebelah kanan jalan. Langsung saja kubelokkan setirku. Masuk kedalamnya terdapat pos retribusi tiket masuk. Disitu tertulis Rp 2000/org, namun saat itu tidak ada petugas yang berjaga, hingga kami masuk aja tanpa bayar, mungkin lagi lagi karena kami pergi di weekdays. Kuparkirkan mobil tepat menghadap pantainya, terlihat tepian danau yang sangat landai, jauh sekali berbeda dengan tepian-tepian danau toba seperti di Parapat yang tepiannya saja bisa mencapai kedalaman 2-3 meter. Mungkin kalau kami datang di akhir pekan disini ramai pengunjung yang berenang atau sekedar bermain di tepiannya, karena tempatnya cocok buat sekedar berenang dan main air, apalagi untuk anak-anak karena tepiannya dangkal seperti pantai. Tapi kami tidak melihat satupun wisatawan selain kami di pantai itu, hahaha, lagi lagi karena weekdays sehingga pantai itu serasa pantai pribadi kami.
TELE
Tujuan kami berikutnya adalah 'Tele', tempat paling indah untuk melihat Danau Toba lebih luas lagi. Letaknya di puncak bukit di Jalan lintas Pangururan - Tele. Juga terdapat menara pandang yang bisa kita naiki untuk melihat keindahan danau toba dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Ibal dengan gayanya
lambung darurat, belum sarapan sejak checkout dari hotel di tuktuk. untung ada pertolongan pertama pada kelaparan, Popmie hahaha
TELE - SIDIKALANG - KABANJAHE - BERASTAGI
itulah rute selanjutnya yang kami tempuh, jalan mulus dari sidikalang dan ada yang rusak di beberapa titik dan juga bekas longsoran yang belum diperbaiki. Jalan Sidikalang yang terkenal sempit untuk ukuran jalan lintas, sehingga di beberapa titik mobil harus turun beram bila berpapasan dengan truk. Aku pun heran juga terkadang jalan gunung kayak gini kokbisa masuk truk besar bahkan kemaren ada kontainer juga yang masuk. Beberapa kali kuturunkan mobil ini ke beram untuk menghindari tabrakan dengan truk dari arah yang berlawanan. Semoga kedepannya jalan lintas Sidikalang yang merupakan jalan lintas menuju Aceh via kutacane ini bisa diperbesar.
Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Berastagi, langsung saja kuparkirkan mobil didepan rumah makan padang yang sudah lama perut kami rindukan ini. Setelah makan kami kembali masuk ke mobil, waktu itu sedang hujan, jam masih menunjukkan pukul 13.30, bila langsung kembali ke medan sepertinya terlalu cepat fikirku. Setelah berunding sama kawan-kawan, akhirnya sebelum kembali ke medan, dari berastagi kami memutuskan untuk singah di Pemandian Air Panas Sidebu-debu. Sebelum berangkat kami menyempatkan untuk membeli beberapa buah duren untuk dimakan di Pemandian air panas. Dan tak lupa juga kami singgah di Pasar Buah Berastagi untuk sekedar membeli buah untuk oleh-oleh.
Sekitar 15 menit dari Berastagi, kami tiba di Sidebu-debu, banyak sekali pilihan pemandian air panas yang dikelola swasta disini. Pilihan kami jatuh di Pemandian Air Panas Pariban, karena kami sudah sering kesitu dan menurut kami dari beberapa pemandian air panas yang ada di sidebu-debu, Pariban lah yang paling oke. Rp10000 perorangnya harga tiket untuk masuk kesini. Tempatnya bagus, ada beberapa kolam air panas dan satu kolam air biasa dengan seluncuran. Dengan latar belakang langsung Gunung Sibayak tanpa penghalang pandangan sedikitpun, taman yang tertata rapih dan terdapat kolam ikan berbentuk melingkar seperti aliran sungai kecil yang didalamnya terdapat ikan koi ukuran besar yang lumayan banyak jumlahnya yang juga menjadi daya tarik pengunjung bila berkunjung kesini. Juga terdapat fasilitas outbond disini, kami pernah mencoba bermain ATV disini, tracknya mantap, pemandangannya mantap. Tak lupa disela sela berendam menghangatkan diri, kami serbu duren yang kami beli di berastagi tadi, ada sekitar 15 buah ukuran sedang kami gas habis sekejap.
Sekitar pukul 18.00 kami cabut dari tempat ini untuk pulang ke medan, di perjalanan kami singgah lagi di Penatapan Bakaran Jagung, karena rasanya kurang afdol ke berastagi tapi gak nongkrong disini, kami singgah di salah satu warung untuk sekedar ngeteh dan makan indomie.
Hari mulai gelap dan kamipun kembali ke Medan. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di Medan.
Sekian perjalanan kami, menarik kan? mau coba?
info:
mramawanda@gmail.com
ig,twitter: @mramawanda
see yaa next post....



EmoticonEmoticon